Senyuman indah sang mentari yang hilang terbaur oleh kabut tak begitu menyilaukanku pagi ini. Namun ada seberkas cahaya turun melalui celah jendela kamar kos yang langsung menuju wajahku. Segera aku beranjak dari mimpiku, kubasahi wajahku dengan dinginnya air yang seketika mengembalikan nyawaku seutuhnya.
Kulihat jarum jam berhenti tepat menunjuk pukul 06.31. "Ah, semoga belum terlambat..", pikirku.
...
Segera kupacu mobilku, menyusuri jalanan kota yang mulai padat merayap oleh segala macam kesibukan pagi hari. Dari jauh kulihat antrian para kuda besi yang siap berpacu kala lampu berganti hijau. "ya Tuhan, berilah aku mujizat, aku tak mau terlambat..", gumamku dalam hati.
20 menit kemudian aku sampai. Sebuah gapura selamat datang menyambutku. Terdengar pengumuman bahwa penerbangan ke Pontianak akan segera diberangkatkan, membuatku harus bergegas.
Dengan langkah seribu dan nafas sedikit terengah aku menuju ruang keberangkatan.
...
Seketika harapanku padam. Pesawat baru saja lepas landas. Aku tak sempat bertatap muka dengannya. Sepertinya dia memang marah kepadaku. Bahkan untuk menemuiku saja dia enggan.
...
"permisi, dengan bapak Andy?", seorang waitress salah satu resto bandara mencuri lamunanku.
"iya, ada apa ya mbak?", tanyaku penasaran.
"tadi ada seseorang menitipkan sebuah surat kepada saya untuk bapak. ini pak suratnya.", surat itu pun berpindah tangan.
"oh, terima kasih mbak.", ucapku dengan senyum.
...
Dear Andy,
aku sudah memaafkanmu sejak malam itu.
Tak usahlah kau repot-repot menemuiku.
Tapi maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan kita, aku juga punya keluarga disini.
Aku sayang kamu.
Kekasihmu, Joni.
Pesan Dari Angkasa
"BIP BIP BIP.."
Kamis, 02 September 2010
Engkaulah Yang Terbaik
Aku sekarang terbaring berdua bersamanya, bersama dia yang kucinta, dia menemaniku disaat aku sakit, disaat aku lelah akan semua masalah, dan disaat aku butuh pendamping tuk menghabiskan malam yang sunyi seperti sekarang ini.
Ia sungguh setia, bahkan lebih setia dari seorang sahabat. Tak peduli seberapa bau, seberapa joroknya diriku, ia kan rela menemaniku dengan tubuhnya yang langsing dan tingginya yang sejajar denganku.
Tak jarang ia menyapaku saat aku mulai tersadar dari belaian mimpiku yang paling buruk sekalipun.
Beralaskan matras hitam pekat sebagai pembatas dengan lantai, ia terlihat begitu anggun di atasnya dengan gaun yang dikenakannya dan bau wanginya yang membuatku serasa sedang berada di langit ketujuh.
Banyak teman yang tidak suka saat aku berdua dengannya, mungkin mereka sirik denganku.
Banyak pula teman yang mengatakan untuk segera melupakannya dan mencari pengganti yang lebih baik.
Namun hatiku berkata, "TIDAK."
Aku sudah terlanjur jatuh hati, aku pun tak rela ia pergi meninggalkanku, walaupun dibayar uang sekalipun aku tetap menjawab "TIDAK!"
Aku tetap akan memilih dia walau banyak pengganti dirinya yang lebih baik, karena hati ini tak bisa lepas darinya.
...
Ooh cintaku,
engkaulah kasur terbaik yang pernah aku miliki.
Ia sungguh setia, bahkan lebih setia dari seorang sahabat. Tak peduli seberapa bau, seberapa joroknya diriku, ia kan rela menemaniku dengan tubuhnya yang langsing dan tingginya yang sejajar denganku.
Tak jarang ia menyapaku saat aku mulai tersadar dari belaian mimpiku yang paling buruk sekalipun.
Beralaskan matras hitam pekat sebagai pembatas dengan lantai, ia terlihat begitu anggun di atasnya dengan gaun yang dikenakannya dan bau wanginya yang membuatku serasa sedang berada di langit ketujuh.
Banyak teman yang tidak suka saat aku berdua dengannya, mungkin mereka sirik denganku.
Banyak pula teman yang mengatakan untuk segera melupakannya dan mencari pengganti yang lebih baik.
Namun hatiku berkata, "TIDAK."
Aku sudah terlanjur jatuh hati, aku pun tak rela ia pergi meninggalkanku, walaupun dibayar uang sekalipun aku tetap menjawab "TIDAK!"
Aku tetap akan memilih dia walau banyak pengganti dirinya yang lebih baik, karena hati ini tak bisa lepas darinya.
...
Ooh cintaku,
engkaulah kasur terbaik yang pernah aku miliki.
Nasihat Jiwaku
Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar mencintai semua orang yang membenciku, dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.
Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku bahwa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai, tapi juga orang yang dicintai.
Sejak saat itu, bagiku cinta ibarat jaring laba-laba di antara dua bunga, dekat satu sama lain.
Menjadi lingkaran cahaya tanpa awal tanpa akhir, melingkari apa yang telah lahir dan memupuk selamanya untuk merengkuh apa yang akan hadir.
Jiwaku menasihatiku dan mengajariku agar melihat kecantikan yang ada di balik bentuk dan warna.
Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keindahannya.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.
Tapi, sekarang aku belajar mendengar keheningan, yang menggema melantunkan lagu dari malam ke malam.
Menyanyikan himne angkasa, dan menyingkap satu rahasia keabadian.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat.
Dan jiwaku mengatakan sesuatu padaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita hasratkan.
Sebelum itu aku sudah puas dengan kehangatan musim dingin, dan dengan angin sepoi-sepoi musim panas.
Tapi, sekarang jari-jariku menjadi kabut, membiarkan jatuh apa yang telah dipegangnya, berbaur dengan yang tak terlihat yang sekarang begitu aku hasratkan.
Jiwaku menasihatiku dan menegurku agar menghargai waktu dengan mengatakan: "Ada hari kemarin, ada pula hari esok."
Pada saat itu aku menganggap masa lalu sebagai kertas catatan yang hilang dan harus kulupakan.
Dan masa depan, kuanggap sebagai saat yang tak perlu kuraih.
Tapi sekarang aku telah belajar ini:
"Bahwa di kedatangan waktu yang singkat, dengan segala yang ada di dalam waktu, dapat diraih dan menjadi kenyataan."
Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir yang belum terangkat oleh tangan, dan tersentuh oleh bibir.
Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu, tertiup angin dingin dari musim-musim semi.
Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku, cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagiaanku.
Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku bahwa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai, tapi juga orang yang dicintai.
Sejak saat itu, bagiku cinta ibarat jaring laba-laba di antara dua bunga, dekat satu sama lain.
Menjadi lingkaran cahaya tanpa awal tanpa akhir, melingkari apa yang telah lahir dan memupuk selamanya untuk merengkuh apa yang akan hadir.
Jiwaku menasihatiku dan mengajariku agar melihat kecantikan yang ada di balik bentuk dan warna.
Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keindahannya.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.
Tapi, sekarang aku belajar mendengar keheningan, yang menggema melantunkan lagu dari malam ke malam.
Menyanyikan himne angkasa, dan menyingkap satu rahasia keabadian.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat.
Dan jiwaku mengatakan sesuatu padaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita hasratkan.
Sebelum itu aku sudah puas dengan kehangatan musim dingin, dan dengan angin sepoi-sepoi musim panas.
Tapi, sekarang jari-jariku menjadi kabut, membiarkan jatuh apa yang telah dipegangnya, berbaur dengan yang tak terlihat yang sekarang begitu aku hasratkan.
Jiwaku menasihatiku dan menegurku agar menghargai waktu dengan mengatakan: "Ada hari kemarin, ada pula hari esok."
Pada saat itu aku menganggap masa lalu sebagai kertas catatan yang hilang dan harus kulupakan.
Dan masa depan, kuanggap sebagai saat yang tak perlu kuraih.
Tapi sekarang aku telah belajar ini:
"Bahwa di kedatangan waktu yang singkat, dengan segala yang ada di dalam waktu, dapat diraih dan menjadi kenyataan."
Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir yang belum terangkat oleh tangan, dan tersentuh oleh bibir.
Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu, tertiup angin dingin dari musim-musim semi.
Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku, cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagiaanku.
SUPERHERO
Aku tak pernah menyangka perjalanan panjangku dari desa ke kota ini akan mengubah semuanya. Dari gaya hidupku, mulai dari gaya berpakaian, gaya berbicara, gaya makan, dan gaya-gayaku lainnya.
Aku betul-betul menikmati kehidupanku yang sekarang ini. Aku sekarang juga lihai berakting di depan kamera. Ya, kali ini aku adalah seorang aktor terkenal. Siapa yang tak kenal aku? Semua pasti kenal aku.
Tubuhku yang kini proporsional dan tampangku yang, yah orang bilang sih mirip Tom Cruise, rupanya menarik perhatian seorang sutradara terkenal yang kebetulan kutemui di kereta yang kutumpangi menuju ke kota ini, untuk bermain dalam salah satu film produksinya. Dan siapa sangka aku langsung mendapat peran sebagai tokoh utamanya. Tokoh superhero yang bertugas menghancurkan penjahat-penjahat dan preman kota.
Seorang perias yang waktu itu aku bingung memanggilnya, mas atau mbak, sedang sibuk menyapukan make up ke wajahku. Tangannya lincah sekali mempermak wajahku. Hasilnya, hebat sekali! Aku sampai terkagum-kagum dengan wajahku sendiri. Kupandangi seluruh tubuhku di cermin. Wow, mirip Superman!
Dengan kostum yang semakin membentuk tubuhku bak seorang superhero. Aku melompat dari satu gedung ke gedung lainnya. Tangan dan kaki kekarku sepertinya lincah menggapai tubuh gedung-gedung tinggi itu. Akupun kembali melompat dan mengawasi dari ketinggian. Menjaga kota dari serbuan perampok-perampok bank, pencopet-pencopet kecil dan penjahat lain yang akan mengganggu keamanan kota ini.
"Tolong! Tolong!" Terdengar teriakan melengking di ujung jalan. Dengan kekuatan superku, aku melompat ke arah sumber teriakan itu. Kulihat seorang laki-laki bertopeng sedang membekap seorang wanita dan mengarahkan pistol ke kepalanya. Rupanya laki-laki bertopeng itu hendak merampok perhiasan dan dompet wanita itu.
Dengan gagah berani, aku berjalan tegap menghampirinya. Perampok itu tampak ketakutan melihatku.
"Aku adalah superhero yang menjaga keamanan kota ini. Para penjahat harus dibasmi dan itu adalah tugasku.", seruku kepada penjahat itu. Perampok itu sepertinya agak gugup. Ia mengarahkan pistol ke arahku.
"Pergi kau superhero tengik. Atau kubunuh wanita ini!" ancamnya. Aku tak gentar. Aku terus mendekat perlahan dan iapun semakin gugup.
"Pergi! Pergi kau bangsat! Jangan kau campuri urusanku!" teriaknya lagi. Dor, dor, dor! Tak kuduga ia menembakku. Tapi aku adalah sang superhero yang dikaruniai tubuh kebal peluru.
Secepat kilat aku menyambar dan merampas pistolnya. Tanpa perlawanan berarti si perampok berhasil kubekuk. Dan, wanita itupun berhasil kuselamatkan. "Terima kasih pahlawanku. Kau telah menyelamatkanku." Wanita itu menciumku.
Tanpa berkata-kata lagi, aku, sang superhero, pergi menghilang entah ke mana. Aku akan terus menumpas kejahatan, aku akan menjaga kota ini. Akulah sang superhero, dan akulah pelindung kalian.
Aplaus penonton terdengar menggema di gedung bioskop ini. Teriakan itu cukup jelas di kedua telingaku, "Superhero! Superhero! Hidup superhero!"
Penonton tampaknya puas sekali dengan launching film yang kuperani ini. Seluruh pemeran dan sutradara film ini mendapat tempat duduk pada deretan VIP. Termasuk aku, sang tokoh utama.
Anak-anak kecil dan remaja mengelu-elukan tokoh superhero dalam film tersebut. Mereka tak henti berteriak-teriak menyanjung nama superhero itu. Dan namaku tentunya.
"Aku bangga sekali. Ya, aku bangga sekali. Kini aku adalah pahlawan kalian!" ujarku ketika memberi sambutan kepada para penonton.
"Tidak! Kau bukan pahlawanku!" Seorang bocah kecil di ujung sana tiba-tiba berteriak.
"Pahlawanku adalah ayah. Ayahku seorang perampok. Ia merampok untuk menghidupi keluarga. Kau menghancurkan ayahku. Kau musuh besar ayahku dan kau pun akan menjadi musuh besarku karena kau menghancurkan ayahku yang menjadi tumpuan keluargaku!" teriaknya lantang.
Suasana gedung menjadi sunyi. Tak ada suara, seolah semua nafas terhenti oleh teriakan bocah kecil itu. Entah mengapa aku hanya bisa diam mendengar cercaan bocah itu. Aku jadi bingung. Siapakah yang pahlawan, aku atau perampok itu?
_END_
Aku betul-betul menikmati kehidupanku yang sekarang ini. Aku sekarang juga lihai berakting di depan kamera. Ya, kali ini aku adalah seorang aktor terkenal. Siapa yang tak kenal aku? Semua pasti kenal aku.
Tubuhku yang kini proporsional dan tampangku yang, yah orang bilang sih mirip Tom Cruise, rupanya menarik perhatian seorang sutradara terkenal yang kebetulan kutemui di kereta yang kutumpangi menuju ke kota ini, untuk bermain dalam salah satu film produksinya. Dan siapa sangka aku langsung mendapat peran sebagai tokoh utamanya. Tokoh superhero yang bertugas menghancurkan penjahat-penjahat dan preman kota.
Seorang perias yang waktu itu aku bingung memanggilnya, mas atau mbak, sedang sibuk menyapukan make up ke wajahku. Tangannya lincah sekali mempermak wajahku. Hasilnya, hebat sekali! Aku sampai terkagum-kagum dengan wajahku sendiri. Kupandangi seluruh tubuhku di cermin. Wow, mirip Superman!
Dengan kostum yang semakin membentuk tubuhku bak seorang superhero. Aku melompat dari satu gedung ke gedung lainnya. Tangan dan kaki kekarku sepertinya lincah menggapai tubuh gedung-gedung tinggi itu. Akupun kembali melompat dan mengawasi dari ketinggian. Menjaga kota dari serbuan perampok-perampok bank, pencopet-pencopet kecil dan penjahat lain yang akan mengganggu keamanan kota ini.
"Tolong! Tolong!" Terdengar teriakan melengking di ujung jalan. Dengan kekuatan superku, aku melompat ke arah sumber teriakan itu. Kulihat seorang laki-laki bertopeng sedang membekap seorang wanita dan mengarahkan pistol ke kepalanya. Rupanya laki-laki bertopeng itu hendak merampok perhiasan dan dompet wanita itu.
Dengan gagah berani, aku berjalan tegap menghampirinya. Perampok itu tampak ketakutan melihatku.
"Aku adalah superhero yang menjaga keamanan kota ini. Para penjahat harus dibasmi dan itu adalah tugasku.", seruku kepada penjahat itu. Perampok itu sepertinya agak gugup. Ia mengarahkan pistol ke arahku.
"Pergi kau superhero tengik. Atau kubunuh wanita ini!" ancamnya. Aku tak gentar. Aku terus mendekat perlahan dan iapun semakin gugup.
"Pergi! Pergi kau bangsat! Jangan kau campuri urusanku!" teriaknya lagi. Dor, dor, dor! Tak kuduga ia menembakku. Tapi aku adalah sang superhero yang dikaruniai tubuh kebal peluru.
Secepat kilat aku menyambar dan merampas pistolnya. Tanpa perlawanan berarti si perampok berhasil kubekuk. Dan, wanita itupun berhasil kuselamatkan. "Terima kasih pahlawanku. Kau telah menyelamatkanku." Wanita itu menciumku.
Tanpa berkata-kata lagi, aku, sang superhero, pergi menghilang entah ke mana. Aku akan terus menumpas kejahatan, aku akan menjaga kota ini. Akulah sang superhero, dan akulah pelindung kalian.
Aplaus penonton terdengar menggema di gedung bioskop ini. Teriakan itu cukup jelas di kedua telingaku, "Superhero! Superhero! Hidup superhero!"
Penonton tampaknya puas sekali dengan launching film yang kuperani ini. Seluruh pemeran dan sutradara film ini mendapat tempat duduk pada deretan VIP. Termasuk aku, sang tokoh utama.
Anak-anak kecil dan remaja mengelu-elukan tokoh superhero dalam film tersebut. Mereka tak henti berteriak-teriak menyanjung nama superhero itu. Dan namaku tentunya.
"Aku bangga sekali. Ya, aku bangga sekali. Kini aku adalah pahlawan kalian!" ujarku ketika memberi sambutan kepada para penonton.
"Tidak! Kau bukan pahlawanku!" Seorang bocah kecil di ujung sana tiba-tiba berteriak.
"Pahlawanku adalah ayah. Ayahku seorang perampok. Ia merampok untuk menghidupi keluarga. Kau menghancurkan ayahku. Kau musuh besar ayahku dan kau pun akan menjadi musuh besarku karena kau menghancurkan ayahku yang menjadi tumpuan keluargaku!" teriaknya lantang.
Suasana gedung menjadi sunyi. Tak ada suara, seolah semua nafas terhenti oleh teriakan bocah kecil itu. Entah mengapa aku hanya bisa diam mendengar cercaan bocah itu. Aku jadi bingung. Siapakah yang pahlawan, aku atau perampok itu?
_END_
Langganan:
Postingan (Atom)