Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar mencintai semua orang yang membenciku, dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.
Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku bahwa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai, tapi juga orang yang dicintai.
Sejak saat itu, bagiku cinta ibarat jaring laba-laba di antara dua bunga, dekat satu sama lain.
Menjadi lingkaran cahaya tanpa awal tanpa akhir, melingkari apa yang telah lahir dan memupuk selamanya untuk merengkuh apa yang akan hadir.
Jiwaku menasihatiku dan mengajariku agar melihat kecantikan yang ada di balik bentuk dan warna.
Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keindahannya.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.
Tapi, sekarang aku belajar mendengar keheningan, yang menggema melantunkan lagu dari malam ke malam.
Menyanyikan himne angkasa, dan menyingkap satu rahasia keabadian.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat.
Dan jiwaku mengatakan sesuatu padaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita hasratkan.
Sebelum itu aku sudah puas dengan kehangatan musim dingin, dan dengan angin sepoi-sepoi musim panas.
Tapi, sekarang jari-jariku menjadi kabut, membiarkan jatuh apa yang telah dipegangnya, berbaur dengan yang tak terlihat yang sekarang begitu aku hasratkan.
Jiwaku menasihatiku dan menegurku agar menghargai waktu dengan mengatakan: "Ada hari kemarin, ada pula hari esok."
Pada saat itu aku menganggap masa lalu sebagai kertas catatan yang hilang dan harus kulupakan.
Dan masa depan, kuanggap sebagai saat yang tak perlu kuraih.
Tapi sekarang aku telah belajar ini:
"Bahwa di kedatangan waktu yang singkat, dengan segala yang ada di dalam waktu, dapat diraih dan menjadi kenyataan."
Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir yang belum terangkat oleh tangan, dan tersentuh oleh bibir.
Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu, tertiup angin dingin dari musim-musim semi.
Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku, cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagiaanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar