Aku tak pernah menyangka perjalanan panjangku dari desa ke kota ini akan mengubah semuanya. Dari gaya hidupku, mulai dari gaya berpakaian, gaya berbicara, gaya makan, dan gaya-gayaku lainnya.
Aku betul-betul menikmati kehidupanku yang sekarang ini. Aku sekarang juga lihai berakting di depan kamera. Ya, kali ini aku adalah seorang aktor terkenal. Siapa yang tak kenal aku? Semua pasti kenal aku.
Tubuhku yang kini proporsional dan tampangku yang, yah orang bilang sih mirip Tom Cruise, rupanya menarik perhatian seorang sutradara terkenal yang kebetulan kutemui di kereta yang kutumpangi menuju ke kota ini, untuk bermain dalam salah satu film produksinya. Dan siapa sangka aku langsung mendapat peran sebagai tokoh utamanya. Tokoh superhero yang bertugas menghancurkan penjahat-penjahat dan preman kota.
Seorang perias yang waktu itu aku bingung memanggilnya, mas atau mbak, sedang sibuk menyapukan make up ke wajahku. Tangannya lincah sekali mempermak wajahku. Hasilnya, hebat sekali! Aku sampai terkagum-kagum dengan wajahku sendiri. Kupandangi seluruh tubuhku di cermin. Wow, mirip Superman!
Dengan kostum yang semakin membentuk tubuhku bak seorang superhero. Aku melompat dari satu gedung ke gedung lainnya. Tangan dan kaki kekarku sepertinya lincah menggapai tubuh gedung-gedung tinggi itu. Akupun kembali melompat dan mengawasi dari ketinggian. Menjaga kota dari serbuan perampok-perampok bank, pencopet-pencopet kecil dan penjahat lain yang akan mengganggu keamanan kota ini.
"Tolong! Tolong!" Terdengar teriakan melengking di ujung jalan. Dengan kekuatan superku, aku melompat ke arah sumber teriakan itu. Kulihat seorang laki-laki bertopeng sedang membekap seorang wanita dan mengarahkan pistol ke kepalanya. Rupanya laki-laki bertopeng itu hendak merampok perhiasan dan dompet wanita itu.
Dengan gagah berani, aku berjalan tegap menghampirinya. Perampok itu tampak ketakutan melihatku.
"Aku adalah superhero yang menjaga keamanan kota ini. Para penjahat harus dibasmi dan itu adalah tugasku.", seruku kepada penjahat itu. Perampok itu sepertinya agak gugup. Ia mengarahkan pistol ke arahku.
"Pergi kau superhero tengik. Atau kubunuh wanita ini!" ancamnya. Aku tak gentar. Aku terus mendekat perlahan dan iapun semakin gugup.
"Pergi! Pergi kau bangsat! Jangan kau campuri urusanku!" teriaknya lagi. Dor, dor, dor! Tak kuduga ia menembakku. Tapi aku adalah sang superhero yang dikaruniai tubuh kebal peluru.
Secepat kilat aku menyambar dan merampas pistolnya. Tanpa perlawanan berarti si perampok berhasil kubekuk. Dan, wanita itupun berhasil kuselamatkan. "Terima kasih pahlawanku. Kau telah menyelamatkanku." Wanita itu menciumku.
Tanpa berkata-kata lagi, aku, sang superhero, pergi menghilang entah ke mana. Aku akan terus menumpas kejahatan, aku akan menjaga kota ini. Akulah sang superhero, dan akulah pelindung kalian.
Aplaus penonton terdengar menggema di gedung bioskop ini. Teriakan itu cukup jelas di kedua telingaku, "Superhero! Superhero! Hidup superhero!"
Penonton tampaknya puas sekali dengan launching film yang kuperani ini. Seluruh pemeran dan sutradara film ini mendapat tempat duduk pada deretan VIP. Termasuk aku, sang tokoh utama.
Anak-anak kecil dan remaja mengelu-elukan tokoh superhero dalam film tersebut. Mereka tak henti berteriak-teriak menyanjung nama superhero itu. Dan namaku tentunya.
"Aku bangga sekali. Ya, aku bangga sekali. Kini aku adalah pahlawan kalian!" ujarku ketika memberi sambutan kepada para penonton.
"Tidak! Kau bukan pahlawanku!" Seorang bocah kecil di ujung sana tiba-tiba berteriak.
"Pahlawanku adalah ayah. Ayahku seorang perampok. Ia merampok untuk menghidupi keluarga. Kau menghancurkan ayahku. Kau musuh besar ayahku dan kau pun akan menjadi musuh besarku karena kau menghancurkan ayahku yang menjadi tumpuan keluargaku!" teriaknya lantang.
Suasana gedung menjadi sunyi. Tak ada suara, seolah semua nafas terhenti oleh teriakan bocah kecil itu. Entah mengapa aku hanya bisa diam mendengar cercaan bocah itu. Aku jadi bingung. Siapakah yang pahlawan, aku atau perampok itu?
_END_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar