Senyuman indah sang mentari yang hilang terbaur oleh kabut tak begitu menyilaukanku pagi ini. Namun ada seberkas cahaya turun melalui celah jendela kamar kos yang langsung menuju wajahku. Segera aku beranjak dari mimpiku, kubasahi wajahku dengan dinginnya air yang seketika mengembalikan nyawaku seutuhnya.
Kulihat jarum jam berhenti tepat menunjuk pukul 06.31. "Ah, semoga belum terlambat..", pikirku.
...
Segera kupacu mobilku, menyusuri jalanan kota yang mulai padat merayap oleh segala macam kesibukan pagi hari. Dari jauh kulihat antrian para kuda besi yang siap berpacu kala lampu berganti hijau. "ya Tuhan, berilah aku mujizat, aku tak mau terlambat..", gumamku dalam hati.
20 menit kemudian aku sampai. Sebuah gapura selamat datang menyambutku. Terdengar pengumuman bahwa penerbangan ke Pontianak akan segera diberangkatkan, membuatku harus bergegas.
Dengan langkah seribu dan nafas sedikit terengah aku menuju ruang keberangkatan.
...
Seketika harapanku padam. Pesawat baru saja lepas landas. Aku tak sempat bertatap muka dengannya. Sepertinya dia memang marah kepadaku. Bahkan untuk menemuiku saja dia enggan.
...
"permisi, dengan bapak Andy?", seorang waitress salah satu resto bandara mencuri lamunanku.
"iya, ada apa ya mbak?", tanyaku penasaran.
"tadi ada seseorang menitipkan sebuah surat kepada saya untuk bapak. ini pak suratnya.", surat itu pun berpindah tangan.
"oh, terima kasih mbak.", ucapku dengan senyum.
...
Dear Andy,
aku sudah memaafkanmu sejak malam itu.
Tak usahlah kau repot-repot menemuiku.
Tapi maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan kita, aku juga punya keluarga disini.
Aku sayang kamu.
Kekasihmu, Joni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar